Bandar Sakong Bandar Q Bandar Sakong Bandar Sakong

Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku

Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku - Hallo Semuanya, Kali ini Musim Lendir, akan mencoba memberikan cerita dewasa Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku
Judul Cerita : Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku
Bandar Sakong Bandar Sakong

lihat juga


Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku

Musimlendir kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, berjudul “Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku” hot terbaru 2017

Cerita Mesum Terbaru | Adegan dalam rekman video ini sungguh sangat membuatku shock, mulutku terbuka melongo. Aku merasa seperti orang dungu yg ditendang tepat diselangkangan. Apa yg terpampang dalam layer TV adalah rekaman isteriku dengan suami adik iparku. Dan mereka tengah bersetubuh. Aku tak bias mempercayainya! Tdk hanya kenyataan bahwa isteriku yg menghianatiku, tapi juga dia melakukannya dengan Bob, suami dari adiknya sendiri!

                                                 Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku    

Cerita Ngentot Terbaru | Linda, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yg tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yg lalu. Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Linda menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.

Cerita Dewasa Terbaru | Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar. Setdknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Nina terlihat menikmati apa yg didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Nina akan hal ini.

Cerita Sex Terbaru | Isteriku mempunyai bentuk tubuh yg atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membaygkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…

Linda melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Linda berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yg lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yg cantik dalam beberapa tahun belakangan.

Dia dan Bob menikah dua tahun yg lalu. Nina dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yg ke duapuluh.

“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir.
Nina menggelengkan kepala.

“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.

“Tdk, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Nina berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.

“Kakak kandungku sendiri!” kata Linda dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.

“Apa yg akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.

“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.

“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya.
Aku hanya mengangkat bahu kembali.

“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”

“Well, aku sudah tahu apa yg akan kulakukan!” potong Linda.
Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.

“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”

“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,

“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”

“Aku rasa tdk,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Apa?”

“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yg suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.

“Kamu pasti bercanda,” tukas Linda. Aku hanya mengangkat bahu.

“Aku tdk tahu apa yg terjadi, tapi aku tak percaya kalau Nina dan Bob sengaja melakukan ini.”

“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Linda.

“Apa ada kelakuan Bob yg aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Nina sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yg ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”

“Itu bukan alasan!”

“Aku tdk bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku.
Linda menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.

“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah,

“Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tdk lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”

“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya.

“Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”

“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya,
Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.

“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku.

“Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”

Linda terlihat tdk puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tdk melakukan suatu tindakan yg bodoh sampai dia merasa tenang.

Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayganku di dalam cermin. Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yg panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.

Linda dateng ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setdknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.

“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Aku mengangkat bahu.

“Apa ini tdk membuat abang marah?” tanyanya gusar.

“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yg sudah terlanjur terjadi.” Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.

“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Nina!” kata Linda.
Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.

“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Nina dan aku punya 3 orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan,

“Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Linda menatapku tajam.

“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya.

Aku mengangguk. Linda menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.

“Linda, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku.
Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.

“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.

Gelas yg pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yg ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat Linda menuangk minuman pada gelas ketiganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.

“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku.

Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Linda yg pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yg keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.

Linda keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yg berubah. Pertama, Linda terlihat sudah mengambil sebuah keputusan. Yg kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yg atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.

“Linda, apa yg kamu lakukan?” tanyaku bingung.

“Aku akan melakukan sesuatu yg mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya.

Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku.

Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Nina, aku juga sama terlukanya dengan Linda. Meniduri Linda, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.

Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Linda bahkan lebih besar dari yg pernah kubaygkan. Ukuran payudara Nina breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yg mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.

Payudara Linda yg jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup. Putingnya tdk sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yg terpana melihat dadanya.

“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Linda sambil menygga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda.

Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Linda bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.

“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya.
Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.

Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Linda mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menygga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Linda menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yg dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.

“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Nina diwaktu yg sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan,

“Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.”

Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.

“Aku merasa sangat penuh!”

Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tdk mengijinkanku. Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.

“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya.
Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku..

“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yg segera akan aku lakukan.

Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Linda segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.

“Linda, aku hamper keluar!” teriakku.

Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.

“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.

“Tapi, kita tdk pakai pelindung!” kataku ragu.

Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku. Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yg masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.

“Kamu tdk apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.

“Aku merasa sangat ehmm…! Saat ini, aku tdk tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Nina lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya.

Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.

“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya.

Kami bawa serta gelas minuman yg kosong, mengisinya lagi untuk yg terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar.

Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.

Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setdknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yg bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya.

Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.

Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yg dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Linda merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.

“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Linda malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya.

Aku mengerang keenakan.

“Jangan bilang kalau kak Nina tdk pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.

“Tdk, tdk pernah,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yg disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.

Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yg terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yg montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.

“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Linda dalam kenikmatan.

Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yg satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.

“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam.
Dapat kurasakan otot pantatnya yg mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri. Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya.

Sentakanku yg terakhir membuat kaki Linda benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Linda bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.

Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yg kering di tempat tidur.

“Kamu benar-benar liar!” kataku.

“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yg kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yg penuh amarah, tapi… apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!

Linda merapatkan kedua daging payudaranya yg kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Nina berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!

“Linda! Teganya kamu?” teriak Nina terdengar hamper menangis, tapi Linda Cuma tersenyum sinis.

“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Nina,” balas Linda said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.

“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Linda tak membiarkanku.

Dia ingin agar Nina melihat aksi kami berdua.

“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.

“Nah, aku rasa yg terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Linda. Nina menggelengkan kepala.

“Kakak keliru,” kata Linda, lalu menambahkan dengan nada sinis,

“Nah, sekarang impas kan?” tangis Nina benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar.

Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tdk enak.

Kudorong tubuh Linda menjauh dan pergi menyusul Nina. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yg berlinang air mata.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya.

“Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Linda tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yg terjadi kemudian, yg kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya.

Aku hendak mulai menjawab, tapi Linda sudah berada di ruangan ini.

“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yg berikutnya? Kak Nina terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Linda dengan marah.

Wajah Nina berubah merah oleh rasa malu.

“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Nina lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.

“Kejadian yg kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yg dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Linda yg sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”

“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Linda dengan tajam.

“Aku mau menolaknya!” jawab Nina, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan,

“Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”

“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Linda tak percaya.

Nina tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yg dikatakan Nina barusan.

“Linda, Nina dan aku menikah di usia muda. Aku tdk heran jika kakakmu membaygkan apa yg hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”

“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Linda asked. Kugelengkan kepala.

“Tdk sampai hari ini,” jawabku. Nina mulai merasa tak nyaman.

“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Nina.
Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Nina sudah tdk mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tdk benar.

“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”

“Bersama?” tanyanya.
Dia terlihat jelas terkejut.

“Ya. Nina, aku punya sebuah fantasi yg ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”

“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan.
Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yg sangat dalam sebagai jawabannya.

“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Linda tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.

“Aku tak masalah jika Nina bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”

“Menakjubkan,” kata Linda, tak tahu harus berkata apalagi.

“Linda, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yg pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Nina, masih memelukku.

Linda masih tetap menggelengkan kepala.

Kutarik kembali Nina dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Nina masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.

“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Linda.

Nina memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.

“Linda, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya.

“Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Linda, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yg kunikahi hamper dua puluh tahun ini.

Nina dan aku tak menunggu jawaban Linda lagi. Kupanggul Nina menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.

“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya.

Nina tdk pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yg memegang buah zakarku.

“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Linda. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.

“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir.

Kemudia dia menampar pantat Nina dengan keras. Nina teriak terkejut.

“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yg sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.

“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Nina dan tdk ingin melihat dia disakiti.

“Tdk apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Nina, mengejutkanku, tapi kurasa Linda sudah mengira akan hal ini.

“Nah kakakku yg jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Linda dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar.

Nina berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Nina malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yg menarik dilain waktu.

Linda menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yg lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Nina pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.

“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Linda komplain.

Nina tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Linda dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Linda kembali komplain.

“Wanita jalang!” teriaknya, yg sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Nina barusan.
Isteriku hanya tersenyum.

“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yg kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Nina, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Linda.

Segera saja nafas Linda mulai tersengal.

“Aku tdk tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Linda tdk melakukan apa-apa untuk menghentikan Nina.

“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Nina.

“Tapi aku kan adikmu!” jawab Linda.
Nina tak menghiraukannya.

“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Nina, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.

“Wow! Nina, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar.

Nina hanay mengangkat bahu.

“Siapa kira? Aku juga tak pernah membaygkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Linda dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Linda. Mengerang keras Linda mulai orgasme.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Linda juga. Linda membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yg melandanya.

Nina meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yg mendera kami berdua mereda.

“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Linda dengan wajah menyeringai.
Nina hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Linda dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Linda.
Linda meronta beberapa saat, tapi Nina lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Linda.

“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Linda!” perintah Nina.
Aku hanya menyaksikan dengan terpesona.

Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Nina yg tak pernah kusangka dimilikinya. Linda mencoba memprotes, tapi Nina sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Linda menelusup ke dalam lubang vaginanya.

“Ya, begitu Linday! Tepat di situ!” ceracau Nina.

Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Linda mendorong tubuh Nina dari atasnya.

“Hey!” protes Nina, tapi Linda cuma tertawa.

Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Linda langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Nina ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yg sama terhadap vagina Linda.

Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yg tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tdk sebuah orgasme.

Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yg akan kulakukan. Linda melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Nina. Nina mengerang.

Linda terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Nina sambil tetap mengoral vaginanya.

Sejenak kemudian Linda mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Nina. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Nina akhirnya menyadari apa yg tengah terjadi.

“Tunggu!” teriaknya, tapi Linda tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Nina kabur.
Kumasukkan beberapa centi lagi.

“Hentikan, ini sakit!” erang Nina.
Linda menampar pantat isteriku dengan keras.

“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku.
Nina hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.

“Ya!” Nina semakin mengerang keras.

“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Linda menampar pantat Nina lagi.

Linda merangkak ke bawah tubuh Nina dan mulai mempermainkan kelentitnya.

Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Nina. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tdk.

“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.

“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Nina.

Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.

Kusodomi Nina dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Linda. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Nina dan aku rebah kecapaian sedangkan Linda meberi kami masing-masig sebuah ciuman yg penuh nafsu yg dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yg sangat mendesak.

Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Linda. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Linda merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.

Kuposisikan dia dalam dogy-style, Nina memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Linda dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Linda lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya.

Denyutan liar dinding vagina Linda tak mampu kutahan, kulit penisku yg terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yg berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.

Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yg lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Nina menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yg kelaparan.

“Aku lapar,” Linda said.

“Aku juga,” timpalku.

“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Nina tersenyum.

Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Nina sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.

“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous.

Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Nina terkembang.

“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Nina pada adiknya.

“Mmm, aku belum tahu,” jawab Linda dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya,

“Yg kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yg juga menikmati hubungan incest?”

“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.

“Dia benar,” Nina menambahkan.

“Kamu seorang biseksual yg menikmati hubungan incest.” Linda tdk bias menahan diri. Dia tertawa terbahak.

Nina dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.

“Linda, beri Bob kesempatan,” kata Nina dengan lebih serius. Linda menarik nafas.

“Akan kupikirkan.”

“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Linda dengan tersenyum.
Dia terlihat agak bimbang.

“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yg jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Nina, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum.

Senyuman Linda semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.

“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yg bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”

Alis Nina’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Linda. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.

“Itu issue untuk besok saja,” jawab Nina.

“Kalau memang jadi,” Linda menambahkan.

“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan.

“Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Nina melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”

“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Linda menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Nina dan dengan tersenyum menambahkan,

“Tentu saja dengan kamu juga.”

“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Nina.+

Linda memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Nina dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.

“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Nina.

Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.

“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tdk akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas.
Nina tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.

“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak.

Aku tdk mau gaya hidup kita yg baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Nina menambahkan.

“Setuju.”

“Kamu puny ide yg lain lagi?” Tanya Nina. Aku menyeringai.

“Ya, masih ada sebuah hukuman yg menunggumu.”

“Hukuman?” Tanya Nina, matanya berbinar.

“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tdk ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”

“Apa yg kamu rencanakan?” Tanya Nina curiga. Aku hanya tersenyum lebar.

Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tdk semua yg kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tdk berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yg lainnya lagi.

Untuk pertama kalinya Nina dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tdk semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yg bagus.

Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yg lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yg indah saat mentari terbit dan juga seprei yg bersih dan segar.

Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yg sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.

Cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, berjudul “Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku” hot terbaru 2017


Demikianlah Artikel Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku

Sekian Blog Lendir Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku dan artikel ini url permalinknya adalah http://musimlendir.blogspot.com/2017/02/cerita-dewasa-ipar-ku-yang-mengajakku_6.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : ,,,,,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Cerita Dewasa Ipar ku Yang Mengajakku"

Post a Comment