Bandar Sakong Bandar Q Bandar Sakong Bandar Sakong

Cerita Dewasa Proyek Sex

Cerita Dewasa Proyek Sex - Hallo Semuanya, Kali ini Musim Lendir, akan mencoba memberikan cerita dewasa Cerita Dewasa Proyek Sex, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Cerita Dewasa Proyek Sex
Judul Cerita : Cerita Dewasa Proyek Sex
Bandar Sakong Bandar Sakong

lihat juga


Cerita Dewasa Proyek Sex

Musimlendir kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, berjudul “Cerita Dewasa Proyek Sex Sungguh Mengesankan” hot terbaru 2017

Cerita Dewasa Terbaru | Nama saya Wawan, saya berumur 28 tahun, baru 3 bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Ricky Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berusia 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yg sama yaitu bermain golf.

                                                         Cerita Dewasa Proyek Sex
                                                        

Cerita Sex Terbaru | Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yg bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Ricky, yg berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood. Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Ricky, hanya melihat fotonya yg terletak di meja kerja Ricky.

Cerita Ngentot Terbaru | Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yg berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Ricky melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Ricky sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Cerita Mesum Terbaru | Suatu hari Ricky mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

“Wan, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam”.
“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.
“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.
“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Ricky dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.
“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yg mau didiskusikan”.
“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.

Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yg padat kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Ricky yg terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yg berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yg sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yg dengan suara medok menegur kami.

“Oh Wawan dan Nina yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Ricky”.

Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Ricky. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Nina istriku”. Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Ricky mengajakku ke teras balkon apartemennya.

“Gini lho Wan.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”. Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Ricky segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku. “Eh Wan.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.
“Seksi nggak?”.
“Lha.., ya.., jelas dong”.
“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Ricky melanjutkan,

“Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membaygkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membaygkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membaygkan Nina dikerjain si bule ini, yg pasti punya senjata yg besar, rasanya kok tdk tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Ricky telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi,

“Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.
Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan,

“Dia tdk suka style yg aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Ricky.

“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yg jelas suka blow-job” lanjutnya.
Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membaygkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.
Kemudian lanjut Ricky meyakinkanku,

“Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yg atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Ricky akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tdk rela aku.

Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga.
Melihat mimik mukaku yg ragu-ragu itu, Ricky cepat-cepat menambahkan,

“Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya,

“Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Ricky. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tdk tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat tanda-tanda itu, Ricky mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina,

“Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nina, Ricky segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yg terletak di ruang tengah.

Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku.

“Wan, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Ricky mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Ricky yg berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yg terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yg terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Ricky semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir.

BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Ricky?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Ricky?”.

Nina tampaknya pasrah seakan-akan tdk menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Ricky dikulitnya dan ciuman nafsu Rickypun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yg tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tdk mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Ricky yg sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yg mungil itu,

“aahh.., aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Ricky telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Ricky dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nina yg ramping mulus dengan buah dadanya tdk terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yg rata dan kedua bongkahan pantatnya yg terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yg membukit yg ditutupi oleh rambut-rambut halus yg terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Ricky.

Kemudian Ricky menarik Nina berdiri, dengan Ricky tetap di belakangnya, kedua tangan Ricky menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nina, yg dengan matanya yg setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yg melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yg mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Ricky terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Ricky berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Ricky meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yg bersandar lemas pada badan Ricky, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri.

Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yg berwarna coklat muda telah mengeras, yg terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Ricky, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tdk akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yg lain dari lain.

Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yg rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yg telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras,

” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”.

Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah,

“Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak.

Tak tahu apa yg diperbuat Ricky pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Ricky sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yg sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yg mulus.

Bisa kubaygkan mulut dan lidah Ricky sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yg mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Ricky dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yg badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,

“Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yg semakin menegangkan otot-otot penisku.

“Aahh.., Wan.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yg merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme.

Tubuhnya yg telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yg juga penuh keringat, dengan tatapan yg sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Ricky dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yg sedang menjadi sasaran tembak Ricky.

Ricky mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yg telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Ricky yg terletak diantara kedua pahanya yg berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yg kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Ricky memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yg sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yg terbelalak melihat ke arah senjata Ricky yg dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Ricky dan badan Nina terlihat agak melengkung.

pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Ricky pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Ricky berkata perlahan.

“Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yg mau dikatakannya, dengan pandangannya yg sayu menatap ke arah kemaluannya yg sedang didesak oleh penis raksasa Ricky itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Ricky, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yg telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Ricky. Mungkin, entah karena tusukan penis Ricky yg terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yg over size, langsung saja Nina berteriak kecil, “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yg agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yg mengangkang itu terlihat menggelinjang.

Kepala penis Ricky yg besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Ricky, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Ricky itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Ricky.

Ricky menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman,

“Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.
“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”. Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Ricky.
“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nina masih merasa sakit”, sahut Ricky dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Ricky melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yg tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tdk terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Ricky bertanya lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa?”, Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Ricky dan Ricky segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Ricky telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tdk lagi menolak badan Ricky, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa.

Ricky menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tdk mengeluh maka Ricky meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Ricky menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yg bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Ricky di dalam kemaluannya.

Ricky mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tdk menambah sakit Nina sambil bertanya lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang,

“aagghh.., kit!”, lalu Ricky mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas.

Terlihat pantat Ricky bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang,

“Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Ricky, Nina mengalami orgasme yg hebat dan berkepanjangan.

Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Ricky yg masih tetap berayun-ayun itu. aah, suatu pemandangan yg sangat erotis sekali, suatu pertarungan yg diam-diam yg diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

“Wan.., ayo aku mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku.

Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yg akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk.

“Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya.

“Aagghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yg terpancar adalah ekspresi kepuasan.

Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

“Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

“Ayo Wan.., terus”.

“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lill.., boleh di dalam.., yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm..”. Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya.
Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

“Nih.., Lill.., terima yaa”.

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian.
Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya,

“..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yg hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yg baru kami alami.

Aku kemudian mencabut senjataku yg masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yg hangat menjilati penisku hingga bersih.

“Ahh..”. Dengan kepuasan yg tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Ricky sedang mempermainkan Nina, yg terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Ricky, yg terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Ricky terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yg pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Ricky mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar.

Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Ricky menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tdk terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yg dilakukan oleh Ricky terhadapnya.

Ricky mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yg diingini oleh Ricky, hal ini dilakukan Ricky kurang lebih 5 menit lamanya.

Ricky kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Ricky memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Ricky yg ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Ricky dan langsung Ricky memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nina.

Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Ricky menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Ricky. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Ricky, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Ricky.

Ricky berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Ricky memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. “Ooohh!”. Mendapat serangan yg demikian serunya dari Ricky, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Ricky. Suatu pemandangan yg sangat seksi.

Ketika Ricky merasa capai, Nina diturunkan dan Ricky duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Ricky dan Ricky memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Ricky memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nina yg kecil dan ketat itu.

Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Ricky menyentuh paha Nina. Kedua tangan Ricky memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Ricky secara teratur, setiap kali penis Ricky masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Ricky. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Ricky mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Ricky akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yg paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Ricky menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina.

Jari jempol tangan kiri Ricky dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak,

“aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Ricky yg dahsyat itu.

Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Ricky tdk mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam keadaan yg sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan,

“Ooohhmm.., aaduhh!”. Ricky mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya.
Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar,

“Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Ricky mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang.

Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Ricky sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yg berada di dalam lubang vagina Nina ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Nina agak tenang, Ricky mencabut penisnya dan menjilat vagina Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Ricky. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Ricky memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan penis Ricky ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Ricky.

Ricky terus menerus memompa vagina Nina. Badan Nina yg langsing tenggelam ditutupi oleh badan Ricky, yg terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yg sudah diisi oleh penis Ricky. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Ricky, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Ricky.

Gerakan pantat Ricky bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yg besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yg cukup keras dan diikuti oleh badannya yg terlonjak-lonjak, Ricky menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina.

pantat Ricky terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan,
“Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Ricky kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yg tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yg satu ini sangat nikmat.

Aku tdk bisa melihat ekspresi Ricky karena terhalang olah tubuh Nina. Yg jelas dari sela-sela selangkangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Ricky dengan mulutnya, itu membuat Ricky mengelinjang keenakan.

Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yg tdk terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

Cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, berjudul “Cerita Dewasa Proyek Sex Sungguh Mengesankan” hot terbaru 2017


Demikianlah Artikel Cerita Dewasa Proyek Sex

Sekian Blog Lendir Cerita Dewasa Proyek Sex, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Cerita Dewasa Proyek Sex dan artikel ini url permalinknya adalah http://musimlendir.blogspot.com/2017/02/cerita-dewasa-proyek-sex.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : ,,,,,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Cerita Dewasa Proyek Sex"

Post a Comment